Wednesday, July 4, 2012

Ayo Kurangi Sampah Pembalut Wanita

Kasus pencemaran lingkungan salah satunya disebabkan oleh pembalut sekali pakai, seperti yang diberitakan pada media-media di bawah ini. Berita tersebut memaparkan kondisi di Surabaya yang bukan mustahil bisa terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia. Mari kurangi sampah rumah tangga, termasuk pembalut sekali pakai. Anda bisa menggunakan pembalut kain moderen atau cangkir menstruasi (menstrual cup) seperti MOON CUP misalnya :)

Surabaya Pagi: "Sampai kini, dari beberapa pantauan pemerhati lingkungan di Surabaya, limbah rumah tangga tiap hari masuk ke Kali Surabaya. Parahnya, fungsi sungai seperti penampungan sampah yang bisa dimanfaatkan setiap hari. Tak heran sampah seperti popok bayi, pembalut wanita sampai bahan lain yang memberikan pencemaran lingkungan serta merusak habitat ikan di sungai kini masih berlangsung. 

 Aktivis Konsorsium Lingkungan Hidup Imam Rohani mengatakan butuh kerjasama terpadu antar pihak untuk mengembalikan fungsi utama sungai. Keberadaan sungai tentu saja bukan bak sampah berukuran besar yang tiap hari dibuangi sampah berton-ton jumlahnya."

Seputar Indonesia: "Awal 2012 lalu Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Surabaya (Mapaus) menggelar razia sampah di sungai sepanjang kampus Ubaya. Selama tiga jam menyusuri sungai, 30 mahasiswa tersebut bisa ”panen”satu truk sampah.

Popok bayi, pembalut wanita, plastik, ataupun kemasan makanan merupakan hasil panenan waktu itu. ”Sampah inilah yang paling banyak kami temui di sungai. Dan memang di sekitar sungai ini banyak pemukiman warga yang membuang sampah rumah tangganya ke sungai,” jelas Ketua Pelaksana bersihbersih sungai Mapaus Alifya Widianto. Tak hanya sungai yang menjadi bak sampah kota tapi sejumlah tempat di tengah kota pun sering terlihat sampah yang berserakan.

Masyarakat kota tentunya menginginkan fasilitas serba praktis dan instan.Bayi di kota besar selalu memakai popok sekali pakai yang langsung dibuang. Padahal popok ini baru bisa diuraikan selama 550 tahun. Sedangkan botol plastik air kemasan baru bisa terurai setelah satu juta tahun. Dan yang paling parah adalah sterofoan yang baru terurai setelah lebih dari satu juta tahun.

Menurut data Komunitas Nol Sampah yang diperoleh dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan serta TPA Benowo sampah di Surabaya memang mengalami penurunan tiap tahunnya. Pada tahun 2006 sampah yang masuk ke TPA sebesar 1.640 ton/hari, 2007 sebanyak 1.480 ton/hari, 2008 dengan 1.258 ton/hari, 2009 dengan 1.229 ton/hari dan 2010 dengan 1.241 ton/hari. ”Sampai tahun ini jumlahnya masih pada kisaran 1.200- an ton/hari.Hanya saja komposisi sampah anorganik seperti plastik dan berbagai kemasan instan semakin bertambah, ” kata Wawan.

Tumpukan sampah di TPA pun menghasilkan zat-zat berbahaya bagi lingkungan. ”Dari sebuah kajian diketahui 1.000 ton sampah dengan kandungan sampah organik 56% akan menghasilkan gas methana 21.000 ton setiap tahunnya.Jumlah ini setara dengan CO2 486.500 ton,”jelas Wawan. Bisa dibayangkan betapa banyak gas methan yang dihasilkan akibat tumpukan sampah di TPA.

Di Indonesia saat ini terdapat sekitar 450 TPA yang pengelolaannya sama, ditumpuk atau ditimbun dengan tanah. Gas berbahaya lainnya yang dihasilkan dari tumpukan sampah adalah methan atau CH4. Gas ini termasuk salah satu penyebab efek rumah kaca yang menyebabkan sushu di bumi terus mengalami peningkatan. Dalam kasus pemanasan global efek gas methan diketahui 23 kali lebih tinggi dari gas CO2."

Baca selengkapnya tentang MOON CUP, alternatif pembalut wanita, di sini:



Thursday, June 28, 2012

Liputan Trans 7 mengenai Pembalut Yang Mengandung Zat Berbahaya

Berikut ini link video youtube hasil rekaman dari liputan Redaksi Siang Trans 7 mengenai kandungan zat pemutih dioxin pada pembalut sekali pakai:

Tuesday, June 12, 2012

Bahan Kimia pada Pembalut Sekali Pakai

Bahan kimia yang digunakan dalam pembalut, tampon dan popok telah memunculkan keprihatinan di seluruh dunia. Hal ini disebabkan pertanyaan-pertanyaan tentang keamanan menggunakan banyak produk komersial yang tersedia yang telah diproduksi dalam suatu proses yang menggunakan bahan kimia serta isu-isu lingkungan untuk membuang bahan-bahan kimia tersebut. Karena faktor risiko yang potensial tersebut, beberapa wanita memilih pembalut dengan bahan-bahan organik sebagai alternatif dan lainnya telah memutuskan untuk menggunakan pembalut kain yang dapat digunakan kembali.

Dioksin

House Resolution (HR) 890, nama Tampon Safety and Research Act of 1999 melaporkan bahwa "Dioxin adalah hasil sampingan dari proses beaching klorin yang digunakan dalam pembuatan produk kertas, termasuk tampon, pembalut, panty liners dan popok." Mereka lebih lanjut menunjukkan efek dioksin bersifat kumulatif dan dapat tinggal di dalam tubuh selama 20 tahun setelah paparan. WHO mengkategorikan dioksin sebagai salah satu "dirty dozen - Kelompok bahan kimia berbahaya yang dikenal sebagai polutan organik yang persisten". Dioksin adalah karsinogen manusia yang diketahui.
 Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) telah mempelajari dioksin dan menunjukkan bahwa masalah terbesar dengan dioksin adalah dari makanan, bukan tampon atau pembalut saniter. Dalam studi yang dipublikasikan oleh EPA pada tahun 2002, menyatakan, "Meskipun dioksin ditemukan dalam sejumlah pembalut yang terbuat dari kapas dan produk pulp, paparan dioxin melalui tampon dan popok tidak secara signifikan berkontribusi pada paparan dioksin di Amerika Serikat."

Zat Kimia Lainnya

Masih kerabat dekat dioksin, furan, juga ditemukan dalam produk kertas yang telah di-bleaching, termasuk pembalut, popok dan tampon sekali pakai. Sebuah studi dari Korea memaparkan zat kimia yang ditemukan pada pembalut dan tampon di seluruh dunia. Sementara hasil bervariasi dengan produk yang berbeda, dioksin octachlorinated (OCDD), hexachlorodibenzofuran (HxCDF) dan okta-chlorodibenzofuran (OCDF) yang terdeteksi. Ini semua adalah zat berracun yang dilarang.
 Menurut HR 890, "Studi independen tahun 1991 menemukan bahwa tampon umumnya mengandung satu atau lebih dari zat aditif berikut: Senyawa Klor, peningkat daya serap (seperti surfaktan, misalnya polisorbat-20), serat alami dan sintetis (seperti katun, rayon, poliester, dan poliakrilat), deodoran, dan wewangian. "

Saran

House Resolusi 373, sebutan untuk pengaturan keselamatan tampon, diperkenalkan di Kongres pada Januari 2003 oleh Kongres Maloney Distrik 14 New York. Undang-undang ini mengarahkan Institut Kesehatan "untuk penelitian risiko kesehatan bagi perempuan --- termasuk endometriosis dan kanker payudara, ovarium, dan leher rahim --- dari kehadiran dioksin, serat sintetis, dan bahan tambahan lainnya dalam produk  pembalut."
 Asosiasi Endometrioses dalam laporan mereka menunjukkan, "Sampai penelitian berhasil menangani risiko, para ahli kesehatan menyarankan pembalut yang tidak di-bleaching, pembalut kapas yang organik dan tampon (tanpa aplikator plastik)."


Referensi
  • CMAJ JAMC: Contact dermatitis associated with the use of Always sanitary napkins.
  • Women's Cancer: Tampon Safety and Research Act of 1999
  • Pub Med: Exposure assessment to dioxins from the use of tampons and diapers.
  • World Health Organization: Dioxins and their effects on human health
  • Endometriosis Association: Endometriosis & Dioxins

diterjemahkan dari: http://www.livestrong.com/article/108477-chemicals-sanitary-pads/